Politik kepolosan Jokowi Dodo, Yang dapat menipu banyak Orang
Sabtu, 15 Desember 2018
Politik kepolosan Jokowi Dodo, Yang dapat menipu banyak Orang
Sumber: Carang Jingga
Sejak terpilih dalam tanda kutip menjadi presiden tahun 2014 lalu nampak begitu uforia kegembiraan bahwa akan ada perubahan di negeri ini karena pemilu sudah menghasilkan sosok pemimpin yg sederhana merakyat dan terlihat begitu peduli.
Di setiap pidato baik kenegaraan maupun kunjungan ke daerah rakyat begitu berseri seakan mendapt asa bahwa indonesia akan lebih baik.
Secara meyakinkan setiap pidato selalu mengkritik pemerintah sebelumnya, dimulai dari kebijakan impor, langkanya kesempatan kerja sampai mempersulit tenaga asing di indonesia.
Hingga seratus hari kepemimpinan walau belum ada gebrakan program yg berefek positif ke rakyat tetap masih dianggap sebagai presiden yg baik.
Hingga 200 hari berlalu, 500 haripun berlalu rakyat sudah mulai curiga kenapa perbaikan yg ditunggu tidak kunjung datang. Bahkan rakyat dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa BBM justru dinaikkan.
Rakyat mulai sedikit mengkritisi kebijakan kenaikan bbm yg membuat dampak ekonomi mulai lemah.
Semakin tahun bertambah, harapan yg tadinya digantung kpd pemimpin terpilih malah makin dibuat gak karuan akibat kebijakan pemerintah yg membuka kran tenaga kerja asing begitu deras. Dan tak berhenti di tenaga asing saja, termasuk hutang2 yg mencapai 5.300 triliyun dgn alasan utk pembangunan infrastruktur makin membuat rakyat menjerit, pasalnya dana2 seperti iuran bpjs atau dana haji menjadi korban karena dipakai nutup bunga hutang berjalan.
Rakyat yg tadinya mengkritik dengan volume kecil karena masih berharap ekonomi membaik justru kegilaan pemerintah makin menjadi-jadi hingga memunculkan volume kritik yg lebih keras melalui para tokoh masyarakat maupun ulama.
Terhadap kritikan, bukannya memperbaiki pemerintah justru menggunakan tangan besinya utk mengkriminalisasi ulama yg dianggap mengusik kebijakan2 pemerintah.
Kepolosan yg dulu dianggap nilai lebih seorang presiden kini menjelma keberanian utk menantang rakyatnya sendiri sehingga para pejabat atau tokoh yg tersandung masalah hukum merasa aman jika ikut di barisan presiden dibanding mereka yg tetap vokal.
Sebut saja Rommy Khurmuzi, Cak Imin, TGB, Ganjar, Puan, Gus Romli, Yusuf Mansyur, Abu Janda, Ade Armando dan masih bayak lagi, tetap saja aman dengan segala masalah hukum yg membelitnya.
Sehingga asa yg dulu pernah merekah kini memudar rontok karena keberanian presiden bukan lagi digunakan utk nengusir para tenaga kerja asing justru mengekang kritik melalui tokoh2 atau ulama yg vokal.
